Review Novel “Si Anak Kuat atau Amelia” Karya Tere Liye

Judul Buku       : Si Anak Kuat (Recover dari buku Amelia)

Penulis             : Tere-Liye

Penerbit          : Republika

Dimensi           : 20,5 cm x 13,5 cm

Tebal Buku      : 392 Halaman

Tahun Terbit   : Cetakan pertama, Oktober 2013

“Kau adalah Amelia, anak bungsu keluarga ini si penunggu rumah kau selalu kembali. Dengan kekuatan yang lebih besar”

“Kau adalah anak yang paling kuat di keluarga ini, bukan kuat secara fisik, tapi kuat dari dalam, kau adalah anak yang paling teguh hatinya, paling kokoh dengan pemahaman yang baik”

Amelia-

Amel, semua orang memanggilnya demikian,  tetapi amel ingin dipanggil dengan sebutan Eli, persis seperti kakak sulungnya. Dia ingin menjadi anak pertama dalam keluarganya. Dia benci karena hanya dia dirumah ini yang tidak bias mengatur siapapun, dan selalu mendapatkan baju lungsuran dari kakaknya.

Jauh dari sifat cerewet dan suka mengatur Eli, sebenarnya dialah kakak yang paling sayang terhadap Amel, paling perhatian terhadapanya. Selalu melindungi Amel setiap saat.

Di sekolah Amel mempunyai teman sekelas yang ke empatnya merupakan anak bungsu sehingga tercetuslah ide membuat geng anak bungsu. Terdiri dari Amelia, Maya, Norris, dan Tambusai. Atas ide yang tercetus saat pertemuan tetua kampung di rumahnya,  Amel mengusulkan ide untuk mengubah bibit kopi yang selama ini digunakan menjadi bibit unggul yang akan menghasilkan panen berlipat ganda. Ide tersebut didapatkan saat melihat buah kopi yang bagus dan lebat di hutan bersama paman Unus. Dia mengusulkan pohon itu untuk menjadi bibitnya. Usul tersebut tentu mendapat banyak tantangan dari warga kampung karena pengetahuan yang masih kurang terhadap sistem pertanian, selain itu juga resiko yang harus ditangung dengan menebang dan menanami dengan pohon yang baru.

Dengan tekat yang bulat dan kuat Amel bersama geng anak bungsu dan bantuan dari paman Unus melakukan penyemaian bibit kopi di belakang sekolah atas ijin pak Bin. Sambil terus menyemai perkembangan bibit kopi Amel dan geng Anak Bungsu, setiap hari berkeliling desa untuk memberikan penjelasan tentang idenya.

Keputusan berakhir di pertemuan besar kampung. Keputusan tersebut akhirnya sepakat untuk mengganti bibit kopi yang lama dengan yang baru. Percobaan terlebih dahulu dilakukan di ladang yang di beli dengan uang kas desa.

Semua berjalan lancar sampai harapan itu terhempas oleh alam. Banjir datang saat bibit sudah ditanam di ladang percobaan dan tinggal menunggu hasilnya. Amel menangis, tetapi dia mendapatkan kekuatan baru bahwa semuanya baru dimulai dari sini. Kisahnya berawal di sini.

Setelah dua puluh tahun menempuh impiannya, Amel kembali ke kampungya dengan cita-cita yang didapatkannya dari cerminan pak Bin. Dia menjadi guru SD tanpa pernah memandang 2 gelar doctornya, Doctor Pedegogi dan Kultur Jaringan yang semuanya didapat di luar nengri. “Aku adalah Amelia Kampung ini adalah duniaku”

Novel ini sangat cocok untuk bacaan-bacaan keluarga dirumah, sangat inspiratif dan menyentuh. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan keluarga kecil ini. Amelia gadis yang selalu benci ketika dipanggil dengan julukan si penunggu rumah. Akhirnya menyadari bahwa kampungnya adalah dunianya, dialah yang bisa melakukan perubahan besar terhadap kampungnya.

Dia kembali setelah pergi berkelana mencari ilmu di negeri luar sana, kembali untuk menepati janjinya. Tidak seperti kebanyakan remaja sekarang yang ketika sukses enggan untuk kembali ke kampungnya. Inilah penyebab banyak desa tertinggal karena banyak orang yang tidak mau melakukan perubahan. Dalam proses perubahan hal yang terpenting adalah memulai perubahan tersebut. Novel ini juga bisa mengambil sisi positif dari budaya anak bungsu. Mungkin ini salah satu budaya yang bisa kita ambil manfaatnya. Setiap anak memang tidak boleh pergi semua dari kampungnya harus ada yang melestarikannya.

Ns. M. Agung Akbar

Ners Generalis lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Penulis aktif dalam beberapa penulisan artikel kesehatan di media cetak maupun online, penelitian ilmiah, dan buku. Saat ini penulis melanjutkan studinya di Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *