Problematika Sekolah Keperawatan di Indonesia

Dunia pendidikan saat ini makin maju dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga mampu menjadi seorang yang professional. Hal ini juga didukung dari berbagai pelajaran akademis yang dipelajari oleh mahasiswa dan ditunjang dengan kemampuan praktik yang terampil. Makin majunya dunia pendidikan saat ini, terbukti dengan pesatnya kemauan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) disegala lini. Hal ini pun, membuat semua institusi pendidikan berjibaku dalam mengadopsi system ini dalam kelangsungan pembaharuan pendidikan masa kini.

Seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945, tujuan Negara kita salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka daripada itu, pemerintah harus dapat menyelenggarakan dan memberikan fasilitas bagi seluruh rakyat untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang layak. Pendidikan sebagai salah satu unsur yang menjadi fokus besar pemerintah karena peran pentingnya dalam mencetak generasi penerus bangsa berikutnya. Namun, dalam pelaksanaannya masih banyak terdapat masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Khususnya adalah tingginya biaya pendidikan.

Hal ini juga  yang saat ini dialami oleh Mahasiswa Keperawatan di Indonesia. Pengakuan dari beberapa mahasiswa juga mengatakan jika dalam pembiayaan perkuliahan keperawatan hingga mereka siap untuk turun langsung melamar pekerjaan diyakini membutuhkan biaya tambahan yang sangat besar. Beberapa dari mereka pun menyebutkan bila pembiayaan baik di swasta maupun negeri tak jauh bedanya.  

Perawatbedarasa.org menganalogikan pendidikan keperawatan saat ini seperti halnya dengan sapi perah, tak banyak dari institusi-institusi formal maupun informal menjadikan mahasiswa sebagai objek dalam perilaku bisnis yang saat ini banyak sekali modus-modus pelatihan-pelatihan, seminar, biaya perkuliahan, dan lain-lain diselubungi dengan pembiayaan yang tinggi. Sehinga mahasiswa keperawatan pun, kewalahan dan harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi untuk pembiayaan perkuliahannya.

Berikut ini adalah riset yang kami lakukan terhadap beberapa mahasiswa yang berasal Institusi Pendidikan Tingkat Diploma III & S1+Ners, Baik di Universitas, Sekolah Tinggi Maupun Akademi, dan beberapa institusi di pulau Sumatera dan Jawa  :

  • Biaya Perkuliahan

Diploma III:

Masa kuliah Diploma III yaitu selama 6 Semester dan diakhiri dengan tugas akhirnya Karya Tulis Ilmiah (KTI). Institusi pendidikan negeri yang menjalankan program diploma di Indonesia yaitu Poltekkes, dan dulunya ada Akper Pemda yang saat ini sudah di akuisisi oleh Kemenkes melalui Poltekkes, ataupun Kemenristekdikti melalui Universitas yang ada di daerah tersebut.

Untuk Biaya di Institusi negeri, kisaran bayaran masuk sebesar 5-6 Juta rupiah, dan biaya perkuliaan sebesar 1,5 juta/ semester. Maka untuk pembayaran SPP saja kurang lebih 15 jutaan.  Sedangkan pada institusi swasta biaya masuk sekitar 7-8 juta rupiah dan biaya SPP 3-4 juta persemester. Berarti total yang dibayarkan ada sekitar 25 juta an. Hal ini pun belum dihitung dengan biaya lain, seperti biaya praktikum, ujian, pembuatan tugas akhir, dan biaya tak terduga lainnya.

S1+Ners:

Program pendidikan S1 seidealnya dapat tuntas setelah menyelesaikan 8 semester dengan tugas akhirnya menyelesaikan Skripsi.  Institusi pendidikan negeri melalui Kemenristekdikti sebenarnya memberikan sedikit keuntungan kepada mahasiswa yang kurang mampu melalui program bidik misi sehingga dapat membantu pembiayaan perkuliahan, maupun Universitas yang menyelenggarakan program UKT sesuai dengan pendapatan perkuliahan masing-masing. Namun kali ini, perawatbedarasa.org akan coba membahas biaya dari jalur mandiri nya.

Program Pendidikan S1 pada institusi negeri pada jalur mandiri berkisar antara 5-10 juta/semester dan program Profesi Ners berkisar antara 23-25 juta. Pada pendidikan S1 Swasta biaya pendidikan sebesar 5-10 juta/semester dan pendidikan profesi ners berkisar antara 25-45 juta. Hal ini pun belum dihitung dengan biaya lain, seperti biaya praktikum, ujian, pembuatan tugas akhir, dan biaya tak terduga lainnya.

  • Biaya Pelatihan

Setelah menyelesaikan pendidikan formal jenjang DIII ataupun Profesi Ners, mahasiswa keperawatan pun dituntut untuk dapat mengikuti pelatihan-pelatihan kekhususnsan yang akan menjadi pertimbangan mereka dalam melamar pekerjaan-pekerjaan yang mereka ajukan.

Besaran biaya pelatihan pun tidak tanggung-tanggung bisa dari jutaan maupun puluhan juta sesuai dengan pelatihan yang mereka ikuti.

Salah satu pelatihan yang menjadi pilihan mereka yaitu seperti

Pelatihan BTCLS : Kisaran biaya 2-4 juta

Pelatihan Perawat OK : Kisaran Biaya 10-15 Juta

Pelatihan Perawat Hemodialisa : Kisaran Biaya : 8-15 Juta

Pelatihan CWCCA : Kisaran Biaya 3-4 Juta

Palatihan Perawat ICU : Kisaran Biaya 5-15 Juta

  • Biaya Uji Kompetensi

Setelah lepas dari belenggu-belenggu SPP dan pelatihan, calon perawat pun belum bisa berpuas diri karena kebijakan pemerintah saat ini mewajibkan uji kompetensi sebagai syarat utama selain ijazah dalam melamar pekerjaan.

Biaya yang harus disiapkan yaitu

Uji kompetensi : 225.000

Try out uji kompetensi : 250.000-300.000

Hal diatas kurang lebih adalah pembiayaan dari panitia pusat*. Namun, saat ini juga banyak institusi-institusi formal maupun informal yang mengadakan course singkat dalam persiapakan menghadapi uji kompetensi perawat. Dengan pembiayaan sekitar 300-500 ribu. Yang dilengkapi dengan tryout sebesar 50-100 ribu.

Hal tersebut tentunya harus disiapkan oleh calon perawat bila ingin mempersiapkan uji kompetensi dengan matang.

  • Registrasi Anggota Profesi

Setelah dinyatakan lulus dari Uji kompetensi perawat, calon perawat harus segera mendaftarkan diri menjadi anggota profesi untuk  mendapatkan nomor induk anggota yang guna kepentingan profesi. Beberapa pengakuan dari calon perawat mereka mendaftar untuk pertama kali dengan membayar uang sebesar 360.000 – 500.000 rupiah. Dan dengan tambahan biaya bulan berkisar antar 120.000 rupiah.

Dari beberapa gambaran diatas didapatkan kesimpulan jika untuk perawat vokasional (Diploma III) membutuhkan dana sebesar 25-50 Juta rupiah sedangkan untuk perawat professional (S1+Ners) sebesar 50-100 juta. Biaya ini menjadi sangat tinggi bagi sebagian besar orang dalam menjalani pendidikan perawat saat ini. Biaya ini juga belum termasuk biaya tak terduga lainnya dan biaya hidup selama perkuliahan.

Setelah mengeluarkan biaya yang besar, calon perawat juga dituntut mandiri dalam mempersiapkan diri mendaftar pada lowongan-lowongan pekerjaan yang membutuhkan jasa mereka secara professional. Maka bila ada, perawat-perawat yang rela diberi insentif kecil maupun kadang tak digaji selama satu bulan kerja, Harusnya mereka sadar atas apa yang telah mereka keluarkan, Dan harus mendapatkan gaji yang layak atas pelayanan professional yang mereka berikan.

Karena Perawat merupakan suatu Profesi, yang dibayar atas keahlian dan keprofesionalitasannya dalam melaksanakan pekerjaannya.

Mau tahu info mengenai keperawatan selanjutnya? klik http://www.perawatbedarasa.org

Ns. M. Agung Akbar

Ners Generalis lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Penulis aktif dalam beberapa penulisan artikel kesehatan di media cetak maupun online, penelitian ilmiah, dan buku. Saat ini penulis melanjutkan studinya di Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *