Mencegah Penyakit dan Menjaga Kualitas Udara

Oleh: M. Agung Akbar, S.Kep.,Ners.Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran


Musim kemarau yang melanda di sejumlah kawasan di Indonesia menjadi musibah besar di beberapa kota di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Pasalnya, hal tersebut diperparah akibat kebakaran hutan yang menyebabkan kualitas udara menjadi buruk. Lain hal nya yang terjadi di Kota Jakarta, walaupun tidak ada hutan yang terbakar di area ini namun Jakarta sebagai ibu kota negara sudah dikategorikan sebagai kota yang tidak sehat. Tingginya Hal ini dipertegas dari data Air Visual pada hari jumat (16/8/2019) nilai Air Quality Index (AQI) menilai kualitas udara di Jakarta dikategorikan sangat tidak sehat.

Akibat dari isu polusi udara ini, Jakarta jadi bahan pergunjingan di berbagai media online seperti instagram maupun facebook. Dalam menjawab tudingan netizen, hal tersebut dibenarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menjelaskan jika tingginya polutan yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh 3 faktor yaitu polusi dari kendaraan, pembangunan (industri), dan musim kemarau. Senada dengan BMKG, Gubernur Anies Baswedan juga mengatakan bila Jakarta telah memiliki 17 juta kendaraan bermotor sebagai salah satu penyebab buruknya kualitas udara.

Posisi Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Hal ini karena Jakarta dapat digambarkan sebagai representasi “Mini Indonesia” secara umum karena di Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan negara tentunya banyak tamu-tamu negara dari luar negeri yang berkepentingan datang untuk hubungan antar negara.Kota Jakarta sebagai ibu kota negara sekaligus kota megapolitan di Indonesia sudah tidak bisa lagi menanggung beban sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian.

Hal ini dikarenakan banyaknya kerugian dari nilai ekonomi yang ditimbulkan dari kemacetan akibat dari tingginya jumlah kendaraan dan juga berdampak secara langsung pada kualitas udara di ibu kota. Tak tanggung-tanggung kerugian negara akibat hal ini hampir mendekati angka Rp.100 triliun, ujar Kepala Bappenas.

Beberapa pertimbangan untuk membuat stabilitas negara dan memperbaiki Kota Jakarta agar dapat menjadi kota yang nyaman ditempati wargnya, maka diperlukanlah hal-hal untuk menjaga kualitas udara yang sehat, maka perlu pertimbangan dan langkah strategis dalam menyelesaikan persoalan ibukota dalam menghadapi era selanjutnya.Polusi udara ini tentunya sangat berdampak bagi kesehatan warga Jakarta.

Sebuah studi mengejutkan dari University of Washington bila polusi udara di jalan sama buruknya dengan merokok 20 batang sehari. Kelompok masyarakat yang paling rentan terkena dampaknya yaitu pada anak-anak, wanita hamil, dan juga lansia. Risiko kesehatan yang paling cepat mengalami gangguan yaitu seperti munculnya penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), hidung berair, influenza, batuk, hingga kulit cepat kusam dan berjerawat.Fokus pada penyelesaian masalah namun masyarakat lupa akan pentingnya pencegahan akibat polusi yang beredar disekitar.

Polusi yang terhidup oleh seseorang akan dapat menimbulkan gejala-gejala penyakit saluran pernafasan yang dapat berdampak bagi kualitas hidup masyarakat. Apalagi pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi seperti ibu hamil, lansia, telah berpenyakit degeneratif, maupun anak-anak. Dampak yang tidak disadari secara langsung malah akan membuat tinggi nya angka kesakitan di wilayah Jakarta.

Hal ini akan menjadi tambahan persoalan bagi pemerintah.Salah satu pencegahan yang dapat digunakan oleh semua orang dalam beraktivitas di luar ruangan adalah dengan menggunakan masker. Benda ini dapat menjadi suatu media dalam membuat barrier (penghalang) masuknya secara langsung zat-zat pollutan di udara Jakarta terhirup oleh masyarakat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat menghiraukan imbauan ini.

Zat pollutan yang sangat kecil berukuran mikron memang sangat tak kasat mata, tak bisa dilihat secara lansung namun dampak nya sangat terasa bila gejala nya mulai muncul.Kelompok-kelompok berisiko tinggi akan menjadi bagian yang paling mudah terserang karena imun tubuh nya saat tidak sekuat atau sekompleks pada manusia yang sehat dan prima.

Maka dari itu, sediakanlah masker kepada kelompok-kelompok tersebut untuk dapat dipakai bila beraktivitas diluar ruangan.Selain bentuk pencegahan berupa pemakaian masker, solusi yang harus segera dihadirkan oleh Pemerintah Provinsi bukan hanya untuk mengurangi potensi terjadinya saja. Namun, diperlukan penangkalnya berupa adanya ruang-ruang terbuka hijau disetiap sudut kota dalam rangka memberikan kualitas udara yang baik dalam meningkatkan kualitas oksigen di udara.

Musim kemarau yang panjang harus menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah dalam merawat hutan kota agar tidak kekeringan dengan terus memonitor dan melakukan perawatan tanaman agar tidak kering dan mati.Pemerintah bisa mengkampanyekan tumbuhan-tumbuhan anti-polutan yang dapat berguna dalam mengurangi konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) sebanyak 40% dan material-material mikroskopis sebanyak 60%.

Tanaman ini dapat ditanami di wilayah-wilayah yang tinggi pollutan dan di area-area terbuka hijau. Hal yang dapat dilakukan lainnya adalah pembagian tumbuhan-tumbuhan ini kepada masyarakat agar dapat ditanam dilingkungan rumah masing-masing.

Pemerintah akan selalu berupaya berbuat terbaik bagi warganya, mari bantu pemerintah untuk meminimalisasi resiko-resiko penyakit akibat dari polusi udara yang buruk. Kesadaran diri sebagai warga negara untuk memelihara kesehatannya adalah tanggung jawab pribadi. Atas dasar kemauan dan kesadaran diri sendiri sudah mencerminkan diri menjadi manusia yang unggul dalam mencapai Indonesia Maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *