Bila ada satu do’a yang dapat dikabulkan

Do’a merupakan kekuatan utama dan mendasar bagi orang beriman untuk merefleksikan angan-angan untuk sebuah perwujudan nyata dalam bentuk realistis. Sebagai bentuk pola pembentuk doktrinisasi pikiran untuk menjadikan pola pikir alam bawah sadar hingga termotivasi, bersemangat, dan  mempercayakan dengan segala upaya yang dilakukannya.

Ingkar akan sesuatu yang telah yakini adalah suatu bentuk penistaan diri. Mulai dari hal yang kecil hingga besar, hal yang kotor ke bersih semua memiliki aturan dan cara-cara tersendiri. Apabila lagi ingkar tersebut atas hal yang telah dilewati melalui proses penyumpahan suci yang seakan-akan hanya bagian pelengkap sebagai simbolis dari sebuah panggung sandiwara ini.


Kesadaran diri untuk lebih memihak kepada kemaslahatan ummat dibuat seolah menjadi persoalan yang sulit dilakukan demi untuk menuntaskan kepentingan pribadi diatas segala-galanya dengan mengenyampingkan manfaat yang lebih banyak bagi orang banyak.


Capaian atas hasil yang didapatnya namun sebagian besar orang tak puas dengan kinerja nya merupakan nol besar. Tak ada yang bisa dibanggakan sama sekali. Bak seperti luka ganggren pasien Diabetes Mellitus, luka nya dari luar cantik merah, bersih, tak ada sedikitpun tanda-tanda kuning maupun hitam yang menempel pada luka. Namun, pada saat ditekan keluarlah cairan-cairan nanah yang berbau. Tampilan luar yang dilihat orang baik namun masih menyimpan kekurangan besar didalamnya.
Bila ada satu do’a yang dapat dikabulkan maka mintalah satu.

Do’a kanlah pemimpin yang dapat membawa kebaikan bagi rakyatnya. Menjalankan roda kepemimpinan itu amanah, mandat, hingga tanggung jawab kepada Allah SWT. Bila sumpah mu diatas kitab suci mu kamu anggap hanya bagian dari ceremonial jabatanmu, maka siap-siaplah menanggung beban mu diakhirat. Ingatlah Allah tidak pernah ingkar atas janji-Nya.


Semantara Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Seandainya aku memiliki suatu doa mustajab (yang pasti dikabulkan) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya seorang penguasa akan membawa kebaikan pula bagi negeri dan rakyat.” (Bidayah Wan Nihayah, 10/199)
M. Agung Akbar, S.Kep
Padang, 23 Februari 2018

Ns. M. Agung Akbar

Ners Generalis lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Penulis aktif dalam beberapa penulisan artikel kesehatan di media cetak maupun online, penelitian ilmiah, dan buku. Saat ini penulis melanjutkan studinya di Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *